Diarsipkan di bawah: Renungan
Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Ceritanya, selama beberapa waktu, setiap pagi sebelum ia berangkat ke kantor, anaknya yang masih kecil itu selalu meminta untuk dimandikan. Setiap kali permintaan itu dilontarkan, selalu terdengar jawaban yang sama, “Mama sibuk. Mama harus kerja keras mencari uang supaya kamu bisa dapat makanan, rumah, mainan, sekolah dan segalanya yang terbaik. Mama kan sudah sewa dua pembantu khusus untuk mengurus kamu. Jadi, kenapa harus mama yang mandiin kamu?“
Meski ‘lagu’ yang didendangkan ibunya selalu sama, sang anak tetap meminta untuk dimandikan. Hal ini terjadi selama berminggu-minggu dan ibunya tetap tidak mau memandikannya. Suatu hari anak ini kena demam berdarah dan beberapa waktu kemudian meninggal. Kali ini, dengan berlinang air mata, sang ibu memandikan bukan lagi anaknya melainkan jenazahnya. Oh, betapa menyedihkan! Benar kata orang bijak. Terkadang hal-hal kecillah yang kerap membuat penyesalan terbesar di hati kita.
Tidak ada yang pernah tahu kapan kita akan dipanggil. Tidak ada juga yang tahu kapan orang-orang yang kita kasihi akan dipanggil.
Dari kisah sederhana tersebut, kita belajar satu hal penting bahwa benar tips untuk menjadi lebih berbahagia adalah dengan menganggap hari ini adalah hari terakhir hidup kita di dunia ini. Namun di sisi lain juga benar jika hari ini bisa kita anggap sebagai kesempatan terakhir untuk menunjukkan kasih kita kepada orang-orang yang dekat di hati kita.
Seorang bijak pernah berkata, “Salah satu cara terbaik menunjukkan kasih kita kepada mereka yang telah tiada adalah dengan mengasihi orang-orang yang masih hidup, khususnya orang-orang yang dekat di hati kita.” Sebuah nasihat yang amat berharga!
Jadi selagi masih ada kesempatan, lakukanlah yang terbaik dan jadilah diri kita yang terbaik karena kita tidak pernah tahu kapan hari itu akan tiba.
Kasihilah orang-orang yang paling dekat di hati kita seolah-olah hari ini adalah hari terakhir, entah bagi kita atau bagi mereka. Toh, tidak ada salahnya menganggap ini adalah hari terakhir jika kita bisa memperoleh banyak manfaat positif darinya. Bagaimana menurut Anda?
Diarsipkan di bawah: Kesaksian
Ketika aku salah membuat keputusan yang menyebabkan aku merasa sangat kuatir akan masa depanku …..
Suatu hari saya merasa telah salah dalam membuat suatu keputusan yang berakibat kurang baik dengan financial saya. Saya mulai merasa kuatir akan masa depan saya. Saya tidak bisa tidur. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki keadaan.
Hari telah larut malam, saya belum dapat terlelap karena pikiran saya masih terus berputar. Rasa kuatir akan masa depan semakin mencekam. Kemuadian saya paksakan diri untuk bernyanyi dalam hati dan berkomunikasi dengan Tuhan.
Bapa, saya tahu Engkau berjanji bahwa masa depanku adalah masa depan yang penuh harapan tapi saat ini aku sedang merasa kuatir akan masa depanku. Aku takut sekali. Aku tahu ini tidak benar tapi jujur saja ini perasaanku saat ini.
Aku tahu banyak janji Tuhan tentang masa depan tapi untuk mengklaimnya saat ini terasa sulit karena keadaan yang aku hadapi tidak sesuai dengan janji Tuhan.
Bapa, tolong aku … aku tahu ini tidak benar …..
Kemudian Tuhan berbicara lewat sebuah ilustrasi. Seorang anak kecil yang tinggal di rumah orang tuanya tidak menjamin 100% anak tersebut tidak terluka. Terkadang anak tersebut naik ke kursi sekalipun orang tuanya sudah melarangnya tapi dia terap bandel. Satu kali dia terjatuh dari kursi. Dia merasa sakit, dia menangis. Orang tuanya menghampiri, memeriksa paakah dia terluka. Bila tidak orang tua anak itu akan berkata, : Sudah papa beritahu tidak boleh naik ke kursi tapi kamu bandel, ini akibatnya. Sakit ?? Tidak apa-apa, nanti akan sembuh.” Anak tersebut merasa tenang dan sebentar kembali meneruskan aktivitasnya.
Dilain hari anak tersbut membuat kenakalan lagi yang menyebabkan dia terluka, orang tuanya segera datang menolong dan mengobati lukanya. Ada luka yang tidak meninggalkan bekas tapi ada luka yang meninggalkan bekas.
Ada kalanya orang tua itu membiarkan anaknya mengalami kesakitan agar anak tersebut belajar patuh pada orang tua. Kadang orang tua itu harus memukul sang anak untuk mendisiplinnya. Sebuah pukulan yang terasa sakit tapi memberi kehidupan.
Apapun yang dilakukan oleh anak tersebut, selama dia tinggal bersama orang tuanya dia akan tetap diawasi dan diperhatikan, dibimbing untuk bertumbuh. Semakin hari semakin dewasa dan dapat mengerti mengapa orang tuanya memberi banyak peraturan kepadanya waktu kecil.
Ternyata apa yang dirasakannya waktu kecil sebagai tekanan, sebagai sesuatu yang tidak enak, peraturan-peraturan yang membuatnya tidak bisa bebas melakukan apa saja yang dia mau, ketika dia dewasa dia mengerti bahwa semuanya itu untuk kebaikannya.
Kamu, memang telah membuat sebuah keputusan yang salah tapi selama kamu masih tinggal di rumah Bapa maka Bapa akan selalu menjagamu, melindungimu, membalut luka-lukamu dan kadang harus menghukummu. Tapi percayalah, kamu tidak pernah Bapa tinggalkan seorang diri.
Bagaimana aku tahu Tuhan kalau aku masih tinggal di rumah-Mu ? bagaimana kalau aku sudah terlanjur pergi jauh ??
Kalau setiap kamu melakukan sedikit saja kesalahan Bapa langsung menegor, menjewer telinganmu, memukulmu, itu artinya kamu masih tinggal dalam rumah Bapa. Kalau kamu melakukan sebuah kesalahan dan segera menyadarinya lalu kembali mencari Tuhan, itu artinya kamu masih tinggal di rumah Bapa. Kalau di hatimu masih ada rasa takut akan Tuhan, itu artinya kamu masih tinggal di rumah Bapa.
Bagaimana kalau kamu sudah terlanjur pergi jauh dari rumah Bapa ? Kapanpun kamu ingat akan rumah Bapa dan kembali mencari Bapa dengan kesungguhan hati percayalah Bapa selalu akan membawa kamu pulang dan mengobati luka-lukamu.
Terima kasih Bapa, Engkau telah menjadikan aku anak-Mu. Aku akan bangkit dan kembali melangkah. Peganglah tanganku ya Bapa dan tuntunlah aku, agar dalam setiap langkahku aku menggenapkan rencana-Mu dalam hidupku. Amin.
Hari hampir pagi, dan akupun terlelap dalam dekapan damai sejahtera Tuhan. Aku tidak takut lagi akan masa depanku sekalipun tabunganku telah berkurang banyak. Karena sekarang aku tahu masa depanku tidak tergantung dari berapa banyak uangku tapi bergantung pada rencana Tuhan dalam hidupku. Aku akan memulai hariku dengan Tuhan.
Dikirim oleh Maria
Diarsipkan di bawah: Renungan
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu… Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya…. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya…
Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan e-mail pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya… Saat kau membutuhkan jawaban dari e-mailmu, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya… Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu… Saat dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu…
Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan… Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu… Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu…
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu… Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu…
Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan…. sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia…
Saat temanmu menghapus e-mail yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kau kirim… atau mungkin saja dia tidak melihatmu…
Dan saat dia tidak menjawab e-mailmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab e-mail temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk dan jika kau tidak bisa menjawabnya katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan e-mailnya tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu…
Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu sebenarnya ….Dia sedang mengajarimu untuk menerima rencanaNya…
Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun…
Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya…
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan… sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif & santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan…
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang2 yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan… Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan/dicuekin, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci dan dihina…
Yang paling berharga adalah.Sebenarnya orang2 tsb. sedang mengajarimu untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berprilaku seperti itu…
Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu hidupmu…