Generation of God


Bandung 1991
Januari 26, 2008, 7:10 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Pulang kuliah. Didn’t what to do.
Gue bukan tipe perempuan tukang nge-mall dan tukang belanja. I was always broke.
Bagaimana lah layaknya mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua, tanggal 20 itu cakep banget kalau masih punya uang. Gue juga kebetulan bukan tipe anak yang nipu2 orangtua. Yah dikit2 mah pasti lah (who doesn’t?) tapi gak seperti temen gue yang tega banget bilang kepada orangtuanya yang sedang nggarap sawah di kampung, “Bu, perlu uang buat bayar SPP Rp. 1.000.000.” Dasar sedeng! Padahal Tahun 1991 di UNPAD itu uang spp cuma Rp. 90.000,- /semester. Pantes aja banyak orangtua yang ngomong kuliah itu mahal sekali sehingga merasa gak sanggup memasukan anaknya ke Universitas, padahal mereka denger ceritanya dari temen mereka yang ditipu mentah2 oleh anaknya yang kuliah di Bandung/Jakarta/Yogya/Surabaya (pilih sendiri).
Anyway, that’s a whole different story..gue ceritain kapan2 yah soal kegeraman gue sama temen2 gue yang doyan nipu.
Gue jalan dari Balubur, habis nyari buku, ke daerah dekat jalan Merdeka. Gue lupa nama jalannya. Tiba2 gue sadar gue berdiri di depan satu Panti Asuhan. Panti Asuhan Bayi dan anak Muhammadiyah tepatnya.
Gak tau angin dari mana, tiba2 gue pengen masuk.
Begitu menjejakkan kaki di pintu, gue mencium aroma Minyak Telon. Hmm this is the ultimate aroma for aromatherapy buat ngilangin stress. Gak usah minyak mahal2, nyium bau Minyak Telon dan Minyak Kayu Putih udah bisa meninggalkan effek calming yang bukan main buat gue.
Seorang Ibu mungkin dari bagian administrasi menatap ke arah gue dengan tatapan ingin tau.
“Neng, nyari siapa?”
“Bukan nyari siapa2 Bu… cuma tiba2 kok pengen lihat bayi2 di sini…”
“Silahkan aja masuk ke dalam, Neng… bebas kok…”
Gue masuk ke dalam RUANG BAYI 1, tepat di sebelah Ruang Administrasi.
Begitu masuk, gue dihadapkan dengan sekitar 8 box bayi yang berjejer di dalamnya.
Hati gue tercekat. Begitu banyakkah orangtua yang tega membuang bayinya yang baru lahir??
Tatapan mata bayi2 berusia 2 minggu-10 bulan itu langsung membuat gue jatuh cinta seketika. What’s wrong with their parents???
Tidakkah mereka sadar bahwa mereka sudah membuang kesempatan berharga untuk melihat senyum mereka??
Satu persatu bayi2 tersebut gue hampiri dan gue belai2 rambutnya.
Tiba2, seorang Ibu masuk ke dalam ruangan tsb, sambil membawa baskom air.
“Neng mau gendong? sok ajah kalau pengen gendong. Mereka semua haus kasih sayang, Neng…”, kata Ibu itu sambil mempersiapkan 1 bayi untuk dimandikan.
Gue langsung mengambil bayi laki2 berumur 2 minggu yang paling dekat dengan gue. Gue belum berani menggendong bayi yang lebih besar,takut berontak.
Ibu itu menatap gue sambil memandikan 1 bayi perempuan yang kira2 berumur 6 bulan.
“Neng, maaf kalau Ibu lancang ya…apakah Neng ini… sedang hamil?”
Gue tertegun mendengarnya.
“Ahh enggak Bu… Gak tau kenapa saya pengeeen sekali masuk tadi pas lagi nunggu angkot di depan.”
Si Ibu tersenyum.
“Duh maaf ya Neng..habis biasanya perempuan muda yang datang ke sini cuma yang mau ngasih bayinya yang hasil kecelakaan…”
“Gusti, Ibu… saya teh emang bukan malaikat, tapi kalau saya sampe ngalamin hal kayak gitu, gak mungkin sampe tega saya ngasih ke Panti Asuhan, Bu, “kata gue agak tersinggung.
Si Ibu tersenyum lagi.
“Syukur lah Neng… buat saya yang paling miris tuh kalau saya harus nambah 1 box lagi di sini. Itu berarti 1 lagi Ibu yang membuang anaknya. 1 lagi anak yang kehilangan kasih sayang Ibunya.”
Gue mengangguk2. Perasaan gue gak keruan. Sambil mikir gue ciumi kening bayi merah di pelukan gue.
Si Ibu beranjak keluar membawa baskom air setelah selesai memandikan bayi perempuan tersebut.
“Neng, kalau Neng mau, masih ada ruang bayi yang lain di belakang. Barangkali Neng mau lihat bayi yang lain.”
Gue tertegun. Masih ada yang lain????? Berapa banyak lagi?????
Gue letakkan si bayi kecil dan berjalan menuju ruang yang bersambungan dengan Ruang Bayi 1. Ruang Bayi 2. Gue memasuki ruangan tersebut.
Lebih besar, ada sekitar 6 box di sana.
Bayi2nya lebih besar sedikit dari bayi di Ruang 1.
Mata gue mulai basah.
Bayi2 itu main sendiri tanpa ada yang menemani. Main boneka di box masing2. Babbling sendiri.
Duh..apa Ibu2 mereka gak pada kangen ya?
Ibu tadi muncul kembali. Mungkin masih belum herannya melihat gue yang entah kenapa kok nyasar ke Panti tersebut tanpa niat apa2.
“Kasian ya Neng.. .Kalau mereka sudah dipindahkan dari Ruang 1, itu berarti kemungkinan mereka untuk diambil orangtua asuh sudah berkurang, karena umurnya juga sudah lebih besar. Rata2 orangtua asuh cuma mau mengambil bayi yang masih di bawah 6 bulan.”
Gue cuma bisa menatap satu persatu bayi2 tersebut dengan hati sendu. Si Ibu penjaga sih sepertinya sudah membatu hatinya. Cuma memandang gue aja masih dengan tatapan heran. Kok mau2nya kali ya perempuan umur 18-an seperti gue iseng2 dateng ke Panti Asuhan.
Gue beralih ke box terakhir yang di ujung.
Boxnya lebih besar dari yang lain dan usang.
Hati gue seperti mau jatuh ke lantai begitu melihat yang terbaring di dalamnya.
Bayikah dia? Atau anak kecil sekali??
Kalau bayi, kok besar sekali? Kalau anak kecil kok diam saja tidak bergerak sama sekali?
Ibu itu berkata, “Itu Tanti namanya Neng. Umurnya sekitar 4 tahun.
Tapi dia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Lumpuh.
Cuma bisa makan makanan bayi saja karena gak bisa ngunyah. Makanya ditaruh di Ruang Bayi.”
Airmata gue turun sedemikian derasnya sampe gue gak bisa melihat jelas. Tanti cantik sekali! Matanya bulat.Bibirnya merah.Dan bulu matanya sangat panjang. Tapi dia juga sangat kurus seperti tengkorak hidup.
“Ada apa dengan dia Bu?”, tanya gue dengan hati gak keruan.
“Ibunya mati2an mau mengugurkan dia sejak umur 2 bulan dalam kandungan. Semua jamu diminum. Tapi Tanti ngotot gak mau keluar. Akhirnya pas umur 8 bulan dia lahir, tapi dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah. Bidan yang menolong sampai shock. Dan si Ibu kabur meninggalkan Tanti di Rumah Bidan tersebut di hari ke 3″
Gue cuma bisa menggenggam tangan Tanti dengan hati patah.
Kasihan sekali kau sayang… Jahat sekali sih Ibumu…
Hari itu gue jatuh cinta pada seorang anak bernama Tanti.
Mulai sejak saat itu setiap pulang kuliah gue selalu ke Panti Asuhan tersebut. Gue harus melihat Tanti setiap hari! Kalau tidak, gue langsung gak enak hati, kangen, dan gak karuan rasa.
Ibu penjaga sudah bilang bahwa Tanti gak bisa apa2 sama sekali. Dan seperti tidak punya emosi. Karena kalau lapar pun cuma nangis lirih tidak ada suara. Mereka sudah putus harapan dengan Tanti, itu kenapa penjaga2 bayi itu tidak ada yang mengajaknya bicara ataupun bermain.
1 minggu. 2 minggu. 2 bulan.
Tiada hari tanpa Tanti buat gue. Setiap hari gue siapkan 2 jam khusus untuk bacain dongeng untuk Tanti. Gue yakin pendengarannya normal karena dia bereaksi dengan mengedip2kan mata kalau gue panggil2 namanya.
Di bulan ke 3 gue dapat hadiah yang tidak terkira berharganya.
Gue sedang bacain cerita lucu. Dan seperti biasa gue menceritakannya dengan heboh.
Tiba2 pas di bagian yang lucu tersebut gue dengar suara seperti Tanti tercekik. Gue buru2 bangun dari duduk dan melihat ke arahnya dengan lebih jelas.
YA ALLAH! TANTI TERSENYUM!!!!!
Gue seperti gak percaya dengan penglihatan gue.
“Tanti!!! Tanti ketawa ya??? Lucu yaaa?,”kata gue sambil loncat2 seperti orang gila.
Gue dengar lagi suara yang aneh itu. Tidak seperti suara tertawa biasa, tapi jelas suara tawa! Mata Tanti tersenyum geli dan gigi putihnya terlihat semua.
YA ALLAH! GUE BENER!!! TANTI PUNYA EMOSI!! DIA TIDAK CACAT 100%!!
Gue lari keluar ruangan.
“BU!!! IBUUUU!!! TANTI KETAWA!!!,”teriak gue.
Ibu2 penjaga berlarian ke Ruang Bayi dan melihat gue dengan pandangan takjub.
Tanti tertawa lagi mendengar gue sibuk bercerita kepada Ibu2 tersebut.
“Neng, aduuhh Neng teh ya. Sabar pisan sama si Tanti sampe dia bisa ketawa begini..”
Gue merasa orang paling bahagia di dunia hari itu. Gue membelai keningnya sambil berkata,
“Tanti, kalau saya nanti punya banyak duit dan jadi orang kaya kamu bakal saya ambil jadi anak!”
Setiap hari gue semakin encourage dia untuk mengeluarkan emosinya. Ternyata otak Tanti tidak cacat. Masih ada yang berfungsi bagian2nya. Gue malah jadi berharap dia bisa bicara…
Sayang Allah SWT tidak mengijikan gue untuk lebih lama mendampingi Tanti. Masalah keluarga dan jadwal kuliah dan tugas yang makin pada membuat gue jadi makin jarang menengok Tanti. Sampai akhirnya di tahun 1992, gue sama sekali gak pernah datang lagi.
Cuma pada sekitar tahun 1996 gue teringat lagi Tanti waktu Mama mau menyumbang ke Panti Asuhan tersebut. Gue yang ngeasih tau Mama soal Panti Asuhan dan Tanti. Dan alhamdulillah kabar dari Mama, Tanti masih sehat.
Terlalu sibuk… terlalu kalut… akhirnya…
Gue lupa dengan janji gue…
——————————————
Singapore 2001
Gue nelpon adik gue, Kuke di Bandung.
Gue minta dia ke Panti Asuhan dan nengok Tanti sekaligus bawa uang sumbangan sekadarnya.
Dari waktu ke waktu gue masih inget Tanti. Tapi kesibukan gue yang luar biasa sejak nikah Tahun 1995, apalagi gue gak tinggal di Bandung, membuat gue gak mungkin menengok Tanti. Apalagi gue sudah punya anak sendiri.
Tapi gue usahain kalau gue punya uang lebih gue sumbangin sedikit uang untuk Panti, dan untuk membelikan sesuatu untuk Tanti.
Besoknya gue nelpon Kuke lagi untuk mengecheck apakah dia sudah ke Panti dan menyampaikan sumbangan sekaligus menengok Tanti.
Gue : Kuk, gimana..uangnya udah dikasihin ke Panti? Tanti gimana.
Kuke: Udah Teh. Kemaren sore.
Gue : Gimana Tanti? Udah bisa apa lagi? Sehat?
Kuke: Teh..Teh..itu..anu lho..sabar ya..
Gue : Kenapa?? Ada apa Kuk??
Kuke : Ehmmm..kata Ibu yang jaga, Tanti sudah meninggal tahun kemaren.
Gue..gak bisa..berkata..apa2..
Entah gue bilang apa waktu menutup telepon. Tersedu2 gue berucap,
Innalilahi Wa Inna Illaihi Rajiun..
Maafkan saya Tanti… Maafkan saya… Maafkan saya lupa kamu ada…
Maafkan saya terlalu sibuk sampai lupa kamu…
Maafkan saya tidak bisa menepati janji…
Maaf… Maaf… Maaf…
Gue benar2 gak tau..Kalau Tanti tidak bisa berfungsi apa2 dalam hidup. Apa tujuan dia dilahirkan di dunia????
Gue gak tau.
Tapi dalam 1 masa di kehidupan gue, dia menciptakan begitu banyak kebahagiaan di dalam hari2 gue. Gue merasa sangat beruntung bisa bertemu dengannya.
Dan Allah SWT begitu sayangnya pada Tanti sehingga Dia memanggil Tanti di usia 11 tahun. Gue bersyukur di satu sisi. Tanti tidak menderita lagi. Tanti bisa berlari, bermain, tertawa, dan jumpalitan di tamanNYA. Sesuatu yang tidak bisa ia kerjakan di dunia.
Selamat Jalan, Tanti…
Kalau bertemu dengan Sang Pencipta, maukah engkau katakan padaNYA agar kita berdua dipertemukan kembali di surga?? Walaupun saya tau mungkin jangan2saya tidak berhak berada di dalamnya. Tapi saya ingin sekali bisa bertemu denganmu..
Ingin sekali bisa minta maaf karena tidak menepati janji saya padamu..
Berlarilah di sana Tanti… jumpalitanlah… tertawalah yang riang!
Di dalam mimpiku masih kudengar tawamu.
Terima kasih kau pernah mengisi hidupku dengan senyummu…
**pagi hari setelah mimpi Tanti lagi tadi malam.
Maafkan.
from a friend…
dari milis Klub Ayah, Bunda & Anak



Miracle Still Happen –> Mukzizat itu NYATA!
Januari 26, 2008, 7:04 am
Diarsipkan di bawah: Kesaksian

3 bulan yang lalu, mama terkena kanker tulang stadium 4 b. Yang artinya sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar
ambang batas. Scan berhasil menunjukkan 5 tempat hitam (yang menunjukkan bahwa sudah terkena kanker) yaitu di pinggul, lutut kanan, tulang punggung, bahu-tangan kanan, dan tulang tengkorak. Serta beberapa bagian lain yang mulai tampak abu-abu ke hitam.. Sedangkan bagian lain yang belum menyebar, berwarna putih bersih.
Keluarga sudah membawa dia ke beberapa dokter ahli tulang, ahli patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama : mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga di chemotherapy (karena akan terlalu menyakitkan untuk dia) maka keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah sakit, begitu mereka bilang. Perkiraan mereka : 1-3 bulan saja usianya (kalau dia bisa makan dengan normal) sisanya, tinggal menunggu koma.

Sedangkan, beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai menjerit2 kesakitan di tempat2 yang memang tampak hitam dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga. Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak heran kata dokter, mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak? Dokter2 hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya tidak tertahankan.

Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat di Singapore, tanpa hasil malah semakin parah. Teman yang lain pun menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya diberikan morfin sebagai pain killer. Keluarga semakin bingung, sedangkan melihat penderitaanya pun rekan2 yang menengok pasti menangis. Apalagi kita, anak2nya?

Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta ijin pada satu kakak saya yang kebetulan sama beragama Kong HuChu dengan mama. (Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik)
Mama minta cepat2 di baptis karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak ada lagi.

Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui. Memang, beberapa waktu sebelumnya, mama pernah bilang ingin minta dibaptis secara Katolik. Diaken datang, untuk menyakan,apakah ini keinginan sendiri atau terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan. Ia memang ingin dibaptis sendiri.

Akhirnya besok paginya ia dibaptis (kira2 2,5 bulan dari sekarang). Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam setelah dibaptis, ia bisa tiba2 bangun sendiri dan berteriak memanggil anak2nya.
Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan kondisinya semakin memburuk. (bergeser/bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!)

Keanehan lain, dua hari berturut2 setelah baptis, ia minta komuni. Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuan nya untuk bergerak dan makan. Beliau juga sudah tidak lagi menjerit2 kesakitan. Kami merasa heran, bahkan dokter yang memeriksanya pun berdecak kagum.

Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai. Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama sebelumnya sudah mulai sulit bernafas. Kami heran, semua tak percaya. Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini.

Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-November ini (karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan) untuk mengetahui apa yang terjadi. 2 minggu yang lalu, seorang kerabat yang melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak percayaannya.

Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami yang kristen/katolik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya mujizat! Mujizat itu tidak ada, yang ada hanyalah…. mungkin, kesalahan diagnosa.

Koko saya yang beragama KongHuchu pun malah mendukung kita, bahwa tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban.

Sampai mid November kemarin, kami tidak bisa berkata apa2. Karena sejak semula, anak2nya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit2 kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan lagi…bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi….amazing! !

Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan bertanya, obat apa yang kita berikan kepada mama. Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan
secepat ini, mengingat usianya.

Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaanNYa. Saat kami bilang mama tidak diobati. Dokter tersebut (yang kebetulan beragama Muslim) berkata bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunujukkan, hitam di 5 tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di tulang panggul! Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang harus kita lakukan untuk beliau?

Dokter cuma menjawab, ‘Ya tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa kan ? Jangan berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!’

Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil kepada dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan kagum. ‘Ini mujizat!’ katanya. (rupanya ia katolik/kristen)
Baru koko saya pun percaya.

This is miracle. Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata2. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau menjerit2 kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami semua, anak2nya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela, menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu yang muluk2… tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti, mama sudah digunakan
Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia. Tak ada obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri.

Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini untuk keluarga sendiri saja. Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal.

Ada ucapan Rm Yohanes di bukunya yang amat saya sukai : Kesembuhan fisik hanyalah sarana…. untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya setiap orang harus meninggal..

Ina



Unconditional Love
Januari 26, 2008, 6:57 am
Diarsipkan di bawah: Cinta

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco.
“Mom and Dad, I’m coming home, but I’ve a favor to ask. I have a friend I’d like to bring home with me.”
“Sure,” they replied, “we’d love to meet him.”
“There’s something you should know the son continued, “he was hurt pretty badlyin the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us.”
“I’m sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live.”
“No, Mom and Dad, I want him to live with us.”
“Son,”said the father, “you don’t know what you’re asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can’t let something like this interfere with our lives. It hink you should just come home and forget about this guy. He’ll find away to live on his own.”
At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the SanFrancisco police. Their son had died after falling from a building,they were told. The police believed it was suicide. The grief – stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue toidentify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn’t know, their son had only one arm and one leg.
The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don’t like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren’t as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there’s someone who won’t treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us intothe forever family, regardless of how messed up we are.
Tonight,before you tuck yourself in for the night, say a little prayer that God will give you the strength you need to accept people as they are, and to help us all be more understanding of those who are different from us!!!
There’s a miracle called Friendship that dwells in the heart You don’t know how it happens Or when it gets started But you know the special lift It always brings And you realize that Friendship Is God’s most precious gift!
Friends are a very rare jewel, indeed. They make you smile and encourage you to succeed They lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their hearts to us.