Diarsipkan di bawah: Renungan
Saat semua org kristen itu hanya berwacana, garam dan terang dunia,
hingga tdk tertarik membawa kembali bid.kehidupan yg tlh dirusak, kembali kpd Kemuliaan BAPA,
semua bahasan pertemuan cuma wacana… teori aja…
nge-roh semua bawaannya..
tp disuruh ikut pemilu, katanya kotorlah,
disuruh ikut dialog antar agama, gak tertariklah..
diminta untuk bantu kampus, selalu menghindar…
tertusuk hatiku, tp mmg cem gitu pula Aku,
bobrok sebenarnya didlm…
lupa kalo Aku ga hny anak PMK ,walau yg plg mantap, singer plg bagus…
lupa jg kalo Aku ad ditengah suku2 “<secret>” yg blm kenal Kristus,
kalo Aku anak slh satu universitas Negeri terkenal di Indonesia – calon intelektual muda yg sgt diharapkan utk bawa perubahan, kalo Aku tinggal di kota X – tp ga pernah ikut pemilu walikota, atau ditengah bangsa Indonesia…
trus mana peranku?
malu Aku jd org kristen
nb: Untuk identitas pengirim dirahasiakan… dan tanpa mengurangi inti dari peesan ini. beberapa kata ada yang kami ralat. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati…
Diarsipkan di bawah: Renungan
Ini adalah kisah seorang Ayah dengan seorang puteranya yang berusia lma tahun. Dikisahkan, pada suatu sore si Ayah mengajak puteranya yang bernama Tom jalan-jalan di taman kota. Cuaca sangat cerah hari itu dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut.Tom sangat menikmati kebersamaan dengan Ayahnya. Ketika mereka merasa sudah lelah, mereka putuskan untuk segera kembali ke pulang. Sepanjang jalan menuju rumah, Tom mengenggam erat tangan Ayahnya sambil bernyanyi kecil. Suasana itu tidak berlangsung lama sampai Tom melihat batu-batu kecil dan pecahannya yang kelihatan seperti Kristal. Tom merasa ingin memiliki batu-batu itu.
“Apa yang hendak engkau lakukan, Nak?”
“Hei Ayah, batu-batu ini sangat menarik, aku ingin mengambilnya untuk diriku…”
“Untuk apa, itu hanya sekedar batu kotor yang kelihatan bercahaya jika terkena sinar matahari. Jika engkau mau, Ayah sanggup membelikanmu sebuah kaleidoskop yang dipenuhi batu-batu berwarna seperti itu.”
“Tapi Ayah, aku maunya sekarang, aku maunya yang ini…”
Tanpa medengar jawaban Ayahnya lebih lanjut, Tom pun mulai memungut batu-batu itu dan mengantonginya. Dia mengambil sangat banyak sekali batu-batu kecil sehingga kantong-kantong bajunya tidak muat untuk menampung semua batu itu. Tom kelihatan sangat kesusahan bergerak karena batu-batu yang dikantonginya menjadi beban yang menghambat kebebasan Tom untuk bergerak.
“Apa Ayah bisa membantumu Tom? Kelihatannya batu-batu itu membebanimu?”
“Oh iya Ayah, akan sangat meringankanku kalau Ayah mau membelikanku ice-cream, aku sangat haus sekali…”
“Tapi sepertinya bukan itu yang engkau butuhkan Nak!”
“Ayah… lakukan saja plis…”
Si Ayah pun terpaksa membelikan Tom sebuah cone ice-cream karena kasihan melihatnya kehausan. Sungguh pemandangan yang tidak enak dilihat dimana dengan tangan kanannya Tom memegang ice-creamnya sementara tangan kirinya masih memegang sisa-sisa batu tadi yang tidak muat di kantong.
Si Ayah terus memperhatikan Tom dengan penuh kasih. Tom pun memandang Ayahnya dengan rasa senang.
“Nak, apa engkau yakin engkau sedang tidak membutuhkan bantuan untuk mengangkat batu-batu itu?”
“Hm… Ayah, bisakah engkau menggendongku?”
“Dengan senang hati Ayah akan melakukannya untukmu, tapi bukan itu yang engkau butuhkan Nak!”
“Apa Ayah tidak menyayangiku?”
“Apakah dengan menggendongmu akan membuktikan padamu bahwa Ayah sayang padamu?
“Ayolah Ayah… ya-ya…”
Si Ayah pun menggendong Anaknya tapi tangan Tom masih dipenuhi dengan batu-batu itu. Sepanjang perjalanan, Tom pun mulai mengantuk…
“Nak, apa engkau mengantuk?”
“Hoahm… iya Ayah, aku mengantuk sekali.”
“Beristirahatlah, Ayah-kan menggendongmu…”
“Tapi, nanti kalau aku tertidur batu-batu ini akan jatuh semua Ayah.”
“Serahkan batu-batu itu kepadaku Nak dan engkau bisa melanjutkan tidurmu…”
Tom pun mulai berpikir sejenak dan tersenyum…
“Itu dia yang aku butuhkan Ayah, hehe…”
“Ayah sudah coba mengatakannya kepadamu daritadi Nak…”
===============================================================
Syalom teman-teman… Kisah ini adalah saduran bebas dari sebuah kisah yang dulu… sekali Saya pernah baca. Apa makna rohani dibalik kisah ini?
Well, setiap orang pasti memiliki beban atau pergumulan di dalam hidupnya. Setiap orang juga membutuhkan pertolongan ketika dia merasa tidak sanggup untuk meng-handle semua permasalahan yang ada. Banyak orang mencoba mencari pertolongan kepada uang, teman-teman, hura-hura, kesibukan, hiburan, narkoba, minuman keras, seks, kerjaan, dll hanya untuk membantu mereka lepas dari permasalahan kehidupan walau hanya untuk sesaat. Ya, walau hanya untuk sesaat… tapi mereka harus membayar mahal dengan kehidupan mereka jika mereka salah memilih jalan yang tidak tepat seperti ketagihan obat-obatan…
Sebagian orang mungkin telah menemukan jawaban yang tepat bahwa ketika kiri-kanan-bawah kita seolah-olah tertutup dan tidak membuka jalan, selalu ada jalan keluar jika kita berharap kepada Yang Di Atas… (Mr. Big Guy on The Sky 735u5). Dan Saya garis bawahi kata hanya sedikit orang yang mendapatkan cara yang benar untuk ditolong dari permasalahan karena taat dan percaya.
Saya melihat kecenderungan dari Anak-Anak Tuhan seolah-olah mengatur Tuhan. Dulu, ketika Pembina rohani Saya berbicara hal ini, Saya tidak mengerti, tapi sekarang Tuhan membuka pikiran Saya untuk mengerti. Kita sebagai Anak-Anak Raja sadar betul bahwa Allah punya kerinduan untuk menolong kita dan memberikan kita hidup yang terbaik. Tuhan Yesus ingin setiap kita merasakan ‘eden’ di dalam kepenuhan-Nya. Dengan kematian Yesus, kita boleh memiliki hubungan yang dipulihkan dengan Allah.
Tapi… permasalahannya, kita sering memanfaatkan hubungan itu unutk kepuasan kita… Jika kita kembali kepada bacaan di atas, ketika si Ayah pertama kali bertanya kepada si Anak tentang apa yang dibutuhkannya, si Anak malah meminta ice-cream… Aih, yang bener aza dunx, sekalipun dia haus, bukan hal itu yang betul-betul dibutuhkannya. Si Ayah bertanya untuk kedua kalinya eh malah si Anak minta digendong. Tetap saja walaupun dia sudah digendong Ayahnya dia masih merasa terbeban karena akar permasalahannya belum dilepaskan… yaitu menyerahkan semua batu-batu yang ada padanya kepada orang yang lebih kuat untuk menampungnya yaitu si Ayah.
Sadarkah kita, bahwa kita sering banget bertingkah laku seperti si Anak, bahkan kadang ketika Tuhan ingin berbicara pada kita tentang sesuatu yang DIA anggap baik bagi kita, kita langsung mengalihkan pembicaraan dengan segala tuntutan kita kepada Tuhan… untung banget kita punya Allah yang penyanyang dan sabar, padahal sebagai Raja segala raja bisa aja karena kekurangajaran kita Tuhan menghempaskan kita seperti debu. Tuhan Yesus emank keren!
Apa tujuan Saya menulis ulang kisah ini? Duhai teman-temanku, apapun yang menjadi permasalahan/beban kita, Tuhan Yesus cuman mau bilang “Serahkan batu-batu itu kepada-Ku Nak…” Semakin cepat kita respon dengan apa yang Tuhan ingin kita lakukan, semakin cepat pula kita mendapatkan kelegaan.
NB: Psst… ga semua yang kelihatannya indah dan berkilau itu baik lho… Kalau hal-hal itu malah menghambat perjalanan-Mu dengan Tuhan, tanggalkan saja…
Tuhan Yesus memberkati^^
Diarsipkan di bawah: Renungan